Sekaligus juga saya ingin memperbaiki opini saya sebelumnya:
- Bahwa sekarang ini memang manusia yang sudah memiliki peradaban yang menghargai harkat manusia, tidak ada lagi dan tidak mungkin lagi memperjual belikan manusia. Bila pendapat saya sebelumnya, transfer pemain sebagai jual beli, pendapat saya itu juga salah. Karena Human Aset atau Human Capital (pemain) tetap menjadi miliknya sendiri, diluar jam-jam latihan dan jam bermain. Jadi, nila transfer tidak dapat dianggap sebagai nilai beli atas "manusia"nya, hanya sebatas membeli "hak memainkan".
- Kemudian, bila pada pendapat saya sebelumnya saya juga mengikuti pendapat Pak Ronald, bahwa nilai penyusutan atas Human Aset atau Human Capital adalah dari anggaran yang disisihkan oleh perusahaan sebagai cadangan Uang Pesangon atau Dana Pensiun, itu bisa benar dan bisa juga salah.
Bilamana pun kita mempertahankan terminologi Aset atau Capital atas manusia, pada kenyataannya ada juga aset yang tidak harus dilakukan depresiasi, yaitu tanah. Tanah dari waktu ke waktu, nilainya bukan menyusut akan tetapi malah semakin mahal. Maka, manusia bisa juga kita anggap sebagai aset yang tidak harus di-depresiasi, karena nilai kompetensinya juga semakin lama semakin besar. Bukankah begitu? Coba rekan-rekan yang jago HR sekali pun, bila merekrut calon yang sudah berpengalaman, apakah bisa mengupahnya dengan upah yang lebih kecil dari yang belum berpengalaman? Ada kenaikan harga bukan?
Dan lagi, kalau kita memang menginginkan agar tenagakerja dimanusiakan, maka sebaiknya kita tidak membahasnya pula dengan teori Anccounting Principles. Sebagaimana saya sebut sebelumnya, manusia sebagai aset bukanlah dalam ruang lingkup Material Management atau Aset Management, akan tetapi dalam ruang lingkup HR Management. Dan itu pula yang dimaksud oleh Pak Barkah kan? Mari kita bahas manusia dengan teori manusia pula-lah. (gaya Medan nih).
Atau, bilamana kita ingin menciptakan teori baru, mengapa tidak? Bilamana ada yang punya ide menciptakan teori baru yang lebih menghargai harkat dan martabat manusia, mengapa tidak?. Kita orang Indonesia jangan hanya bertidak sebagai "sales: dari teori atau konsep dari luar saja. Kita juga, orang Indonesia tidak kalah pintar dengan orang Barat atau manusia dari negara mana pun, asal kita mau. Camkan pernyataan dari Stephen Covey, kita mampu menjadi apa pun yang kita inginkan, sepanjang itu dapat kita bayangkan secara logika.
Masalah kita orang Indonesia adalah pada paradoksal pada keinginan dan kemauan. Kita ingin ingin pintar, lalu kita sekolah, mengorbankan waktu, tenaga dan biaya. Tetapi coba kalau dulu waktu sekolah di SD, SMP, SLTA, kalau kelas diliburkan karena guru berhalangan, kita bukannya menggerutu, malah berteriak gembira, horeee!!!!. Bukankah begitu? hayo jujur!... ha ha ha.
Hayo rekan, kita boleh diskusi seberat apa pun, tapi jangan terlalu serius, ntar ntar muka kita seperti muka patung Gajah Mada lagi.
Ha ha ha...
Salam buat semua.
Simon J. Sibarani
Dari: "sbarkah@gmail.com" <sbarkah@gmail.com>
Kepada: HRM-Club@yahoogroups.com
Terkirim: Rab, 22 Desember, 2010 18:25:04
Judul: Re: Bls: Re: [HRM-Club] Human as Asset?
Dear All,
Mohon ijin beropini dgn diskusi yg sangat menarik ini.
Apa yg Pak Ronald pahami ttg Human Asset maupun Human Capital, bagi saya sesuatu terobosan yg sangat luar biasa.
Yang perlu diingat oleh para pelaku kebijakan perusahaan/management adalah sudahkah memanusiakan manusia sesuai harkat martabatnya?
Bila belum, rasanya kok kurang afdol berdiskusi dgn bahasan HUMAN bla...bla...bla., tapi belum "memanusiakan manusia".
Saya pernah mendengar seorang pekerja yg sdg berperkara di PHI yg salah satu keluhannya adalah dipanggil oleh boss-nya dgn nama seekor binatang piaraan (MAAF) anjing.
Lha...anjing aja kalau kita panggil anjing ga bakalan noleh kok...ini manusia kok dipanggil anjing.
Contoh ini kan bukan memanusiakan manusia...
Semoga berkenan.
Salam,
Barkah
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Rekan-rekan,
Saya melihat bahwa pembahasan dan kesepahaman atas topik ini sangat penting bagi
para praktisi HR, karena sebagaimana yang diutarakan oleh Pak Ronald, bahwa
“Sebuah istilah yang secara linguistik tidak tepat akan memberi makna yang salah
dalam prakteknya. Alih-alih membantu orang memberdayakan potensinya, malah
mungkin jadi memperdaya. Belum lagi arti dan makna filosofisnya�
Saya mencoba mengutarakan pemikiran saya atas polemik ini, akan tetapi mungkin
karena kepanjangan, setelah saya postingka ke milist ini ada feedback yang
mengatakan "undeliverabled".
Menurut saya, polemik ini perlu juga diketahui oleh publik, khususnya para
pengusaha atau top management, maka, sekaligus juga dengan tujuan agar polemik
ini diketahui oleh publik, khususnya pengusaha dan top management, maka
pemikiran saya telah saya postingkan di: http://www.yosibara.com/index.php/Rubrik-Indonesia/human-as-aset.html
Saya kira, kita semua tentu akan bersenang hati bila masih ada rekan-rekan yang
mempunyai pendapat lain.
Salam
Simon J. Sibarani
www.yosibara.com
Demikian alur diskusi dari rekan-rekan tersebut. Dan dengan adanya diskusi ini, saya jadi berpikir bahwa sudah seharusnya para praktisi HR menuntaskan dan menselaraskan persepsi, sehingga dengan demikian, ada kesatuan pendapat dan perlakukan fungsi HR Management terhadap tenaga kerja, sebagai manusia? Sebagai SDM? Sebagai Aset? atau sebagai Modal (capital)?. Itu sebabnya, salah satu visi saya yang saya cantumkan pada homepage ini adalah: "dengan menselaraskan paradigma tentang HR Management, kita mampu membangun Indonesia Incroporate yang tangguh". Mengapa demikian?
Sebagaimana pendapat rekan Ronald diatas yang mengatakan bahwa: "Sebuah istilah yang secara linguistik tidak tepat akan memberi makna yang salah dalam prakteknya. Alih-alih membantu orang memberdayakan potensinya, malah mungkin jadi memperdaya. Belum lagi arti dan makna filosofisnya" Maka, pemahaman yang tepat atas makna dari predikat yang diberikan pada tenaga kerja, menjadi hal yang essensial. Karena memang, makna yang dipahami akan membentuk sikap dan perlakuan terhadap tenaga kerja. Apakah akan mampu menjadikan manusia sebagai mitra strategis untuk membangun daya saing usaha atau tidak?.
Apa yang dikuatirkan oleh rekan Ronald, bila kita menganggap tenaga kerja sebagai asset, bisa menimbulkan perlakuan terhadap tenaga kerja, bahwa tenaga kerja adalah benda mati. Tentu anggapan tersebut menjadi kontradiksi dengan prinsip HR Managemen itu sendiri, bahwa manusia harus dimanusiakan, sehingga dengan demikian akan muncul karya terbaik dari tenaga kerja sebagai manusia, bukan sebagai alat atau mesin, yang kapasitasnya tergantung pembuat (maker) dan operator yang menjalankannya.
Tentu, tenaga kerja dianggap sebagai asset, bukan bermakna sebagai "komoditi" yang diperjual-belikan. Sebab tidak semua asset harus dijual, walaupun sebenarnya manusia juga bisa dijual, atau dengan istilah yang dipermanis, yaitu transfer, seperti transfer pemain yang populer terjadi di dunia sepak bola. Sayang saja, tidak ada satu pun perusahaan yang mau "mentrasnfer" tenaga kerjanya, apabila tenaga-kerjanya sudah bagus.
Mengenai kepemilikan, yang menjadi pemilik adalah karyawan sendiri bersama majikan. Memang, majikan tidak memiliki tenaga kerja secara keseluruhan, tetapi hanya sebagian dari waktu kehidupan tenaga kerja, yang ditetapkan sebagai jam kerja. Itu sebabnya, di dalam jam kerja, apabila ingin mempergunakan waktu untuk kepentingan sendiri, karyawan harus terlebih dahulu minta ijin pada majikan. Tetapi selepas itu, tenaga kerja adalah milik dirinya sendiri. Sebab selepas masa masa perbudakan, tidak ada lagi manusia yang mau menjual seluruh kehidupannya dan itulah perbedaan antara era perbudakan dengan era HR Management. Sekarang ini, yang dijual oleh tenaga kerja kepada majikan, adalah "produktivitasnya" (rekan Wayan menyebutnya sebaga "Kompetensi, Skill, Pikiran, Usaha, dan Waktu) pada sebagian dari waktunya, yaitu waktu yang disepakati sebagai jam kerja.
Makna yang ingin diambil dari terminology "asset"atas tenaga kerja adalah prinsip HR Management yang harus memanfaatkan asset (tenaga kerja) dengan efisiensi yang paling optimal. Saya menggambarkan bahwa ciri khas pengelolaan tenaga kerja sebagai asset oleh HR Management adalah mengeksplorasi kontribusi tenaga kerja pada pencapaian QCD (Quality, Cost dan Delivery) yang terbaik.
Kemudian, munculnya terminology yang menggambarkan tenaga kerja sebagai capital adalah karena adanya perkembangan prinsip sasaran yang terkandung dalam filosofi HR Management. Bahwa majikan atau perusahaan harus mendapatkan capital gain, yaitu hasil yang lebih besar dibanding nilai yang diinvestasikan, sebagaimana yang dimaksud dengan ROI oleh rekan Wayan Dewantara diatas. Bukan pada anggapan dan perlakuan yang memanipulasi bahwa tenaga kerja sebagai benda mati, yaitu "capital" semata. Bahwa sasaran tambahan dari prinsip Human Capital disbandingkan dengan sasaran Human Aset adalah pada sisi "product development" dan "pertumbuhan usaha" yang hanya bisa diperoleh melalui kreasi manusia (Human Capital).
Tambahan lagi, anggapan bahwa tenaga kerja sebagai asset atau capital, belum pasti akan menimbulkan perlakukan terhadap tenaga kerja seakan-akan benda mati semata. Sebab, kalau direnungkan, secara logika, tidak ada orang atau institusi yang memperlakukan asset atau capital secara sembarangan. Justru sebaliknya, asset atau capital pada umumnya pasti diperlakukan sebagai hal yang berharga, sesuai harkat dari asset atau capital itu sendiri. Bilamana asset, katakanlah mesin, mesin akan dirawat baik-baik dan ditempatkan pada tempat yang semestinya untuk mesin. Bilamana asset adalah bahan kimia, kimia akan ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan harkat bahan kimia. Demikian pula dengan manusia, bila manusia dianggap sebagai asset, maka "asset"manusia tentu diperlakukan pada harkatnya sebagai manusia juga. Bukankah begitu?
Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kita tidak perlu alergi atau phobi atas penggunaan terminology asset atau capital terhadap tenaga kerja.
Maka, kembali kepada pertanyaan dari penanya (maribelvelard@..........) bahwa makna penggunaan terminology capital atas tenaga kerja adalah atas adanya prinsip bahwa investasi yang dikeluarkan, harus menghasilkan capital gain atau ROI yang menguntungkan si pemodal. Siapa pemodalnya? Yah, karyawan itu sendiri bersama majikan. Berapa nilai investasinya? Jawabannya adalah nilai investasi yang telah dikeluarkan oleh karyawan itu sendiri untuk membangun kompetensinya, serta nilai labor cost termasuk investasi pengembangan SDM yang dikeluarkan oleh perusahaan. Apa yang dibeli? Yang dibeli adalah intellectual capital (mengikuti pendapat rekan Ronald) atau menurut saya, yang dibeli adalah "production capacity" dari manusia (selaras dengan pendapat rekan Wayan Deantara yaitu Kompetensi, Skill, Pikiran, Usaha, dan Waktu) sebatas pada waktu kerja yang disepakati.
"Production capacity" itulah yang diukur pada saat melakukan seleksi untuk rekrutmen dan penetapan harga (gaji) dari karyawan.
Kemudian mengenai depresiasi atau amortisasi, memang itu dilakukan oleh perusahaan yang sudah memahami, yaitu dengan akumulasi anggaran untuk Uang Pesangon atau Dana Pensiun. Tentu metoda pelaksanaan depresiasi bisa berbeda, karena yang pernah saya temukan, ada perusahaan yang melakukannya dengan jasa perusahaan asuransi.
Memang berbeda dengan depresiasi untuk mesin, mobil, bangunan dll, bahwa depresiasi yang ter-akumulasi atas asset tersebut, sepenuhnya adalah menjadi hak perusahaan sebagai pemilik utuh atas aset tersebut. Akan tetapi akumulasi depresiasi untuk Human Capital, pada akhirnya adalah menjadi hak karyawan, sebagai pemilik asal atas Human Capital, yaitu dirinya sendiri. Itulah ku-unikan Human Aset atau Human Capital. Sehingga teori ilmu yang membahasnya pun bukan dalam ruang lingkup Material Management atau Aset Management, akan tetapi terpisah pada HR Management.
________________________________
Dari: Rudy <rudy_a@adiprima.com>
Kepada: HRM-Club@yahoogroups.com
Terkirim: Sel, 21 Desember, 2010 09:36:20
Judul: RE: Re: [HRM-Club] Human as Asset?
UrunOpini,
Asset dalam istilah finance ada dua; tangible dan intangible, keduanya ada
nilainya di neraca keuangan. Apakahdi dalam unsure kedua asset tersebut ada yg
disebut human asset value? Sejauhyang saya ikuti belum ada termasuk pengakuannya
dalam standar akuntansi keuangan. Mohondi share jika ada yang mutakhir tentang
hal ini. Mungkin yang assetnya benar-benar manusia akan beda seperti di MU, Real
Madrid tapi ndak tahu gimana kalo di PT Arema, PT Persija seperti apa?
Kamipernah ingin mengakuisisi sebuah perusahaan tapi urung karena bos bilang
ternyata dijual dengan harga yang jauh “lebih tinggi� karena katanya memiliki
SDM yang unggul.Demikian pula ketika kami urung mengakusisi sebuah perusahaan
walaupun dijual dengan harga “murah� tapi bos tidak berani karena perusahaan
tersebut ikut “menjual� 2500 karyawannya yang bermasalah.
BR,
RH
-----Original Message-----
From: HRM-Club@yahoogroups.com [mailto:HRM-Club@yahoogroups.com] On Behalf Of
Ronald Tedjasasmita
Sent: Friday, December 17, 20106:40 PM
To: HRM-Club@yahoogroups.com
Subject: [!! SPAM] Re: [HRM-Club] Human as Asset?
Praktisi HR,
Silakan Anda cermati kembali terminologi yang selama ini digunakan.
1. Sumber Daya Manusia. Apa sih sumber daya manusia itu sebenarnya? Lalu kalau
seseorang punya sumber daya, siapa yang harus mengelolanya?
2. Human Asset. Asset=harta, maknanya adalah kepemilikan. Apakah benar ada
sebuah entitas atau orang yang 'memiliki' orang lain? Variable manusia bukan
hanya karyawan, tetapi juga pemilik perusahaan. Mengapa yang disebut asset hanya
karyawan?
3. Human Capital. Capital=Modal, sounds better than asset. Modal adalah sesuatu
yang diinvestasikan dan suatu saat dapat diambil kembali. Ada modal ada pemodal.
Kalau karyawan adalah modal, siapa pemodalnya? apakah manajemen perusahaan mampu
meregulasi pemodal manusia?
4. Semua hal yang ada dalam balance sheet adalah benda atau yang dapat
dibendakan. Intellectual Capital adalah modal yang ditanamkan oleh seseorang
atas hasil karyanya dan diberi suatu nilai yang disepakati secara private
ataupun secara pasar. Jangan-jangan yang mau disebut sebetulnya adalah
Intellectual Capital ini.
5. Merujuk kepada spirit of law dari UU Naker atau mendalami filosofi sebuah
usaha, maka semua orang yang berperan dalam sebuah usaha adalah merupakan mitra,
secara esensial memiliki hubungan egaliter. Jika dalam organisasi terdapat
struktur, itu adalah sebagai sarana koordinasi dan bukan sebagai pemeringkatan
kemanusiaannya.
6. Kalau kemitraan adalah bentuk yang sebenarnya diamanatkan secara kemanusiaan
dan bisnis, maka yang dikelola bukanlah sumber daya manusia melainkan
manusianya, person-nya. Manajemen manusia, manajemen personalia. Perluasan arti
terhadap personalia tampaknya perlu dilakukan.
7. Sebuah istilah yang secara linguistik tidak tepat akan memberi makna yang
salah dalam prakteknya. Alih-alih membantu orang memberdayakan potensinya, malah
mungkin jadi memperdaya. Belum lagi arti dan makna filosofisnya.
Semoga menjadi permenungan di akhir pekan. Kalau Anda tidak nyaman, selamat
karena ada kebenaran yang ingin bicara. Kalau Anda tidak peduli, selamat karena
mungkin Anda memiliki pandangan yang lebih mendalam dari saya.
Wassalam,
Ronald
http://www.hrm-indonesia.com/
SLOGAN : HRM MEMANG BEDA
LOW PRICE, HIGH QUALITY & EASY TO APPLICATION
HRM CLUB - HRM SCHOOL - HRM INDONESIA
MENUJU 25.000 MEMBER
-----------
MILIS INI ADALAH MILIS SERIUS DLM SHARING & DISKUSI BUKAN SEKEDAR KONKOW, GUYONAN, ATAU MAIN-MAIN, KAMI BEDA DGN MILIS LAIN
KAMI AKAN HILANGKAN DISKUSI YANG ISINYA KONKOW, GUYONAN ATAU MAIN-MAIN.
KARENA POSITIONING KAMI ADALAH MILIS SERIUS
KARENA SLOGAN KAMI ADALAH HRM MEMANG BEDA
------------
Member Milis ini lebih dari 11.500 orang terdiri HR Director, HR Manager, Assnt Manager & HR SPv, akademisi & HR Consultant, bahkan CEO Perusahaan sehingga diskusinya berbobot dan bergizi.
Program-program HRM Club:
1. Training:
Public House - Harga member
Inhouse - Harga member
2. Konsultasi - Harga Member
3. Recruitment service / search executive - Harga Member
Saat ini HRM sering diminta untuk membantu membenahi sistem HR & Organsasi sampai bisa diaplikasikan dilapangan & kami undang anda utk bergabung bersama-sama belajar praktek implementasi sistem HR & Organisasi. Saat ini kami menangani rata-rata 3-4 perusahaan dalam sebulan untuk praktek pendampingan & konsultasi
Bila anda punya kemampuan dalam bidang training & konsultasi HR, mempunyai jiwa pengabdian & tidak terlalu komersial, & ingin bergabung dengan Team HRM Club.
silahkan kirim CV anda ke: teamhrmclub@yahoo.com
subject: Bergabung dengan tim HRM Club
Sebutkan bidang keahlian anda
Iffah
Pengelola
http://www.hrm-indonesia.com/
Di dukung para konsultan & trainer SDM yang mumpuni & membumi.
Bila email yahoo anda bouncing yakni tdk bisa menerima email lagi, silahkan kunjungi web:
http://groups.yahoo.com/unbounce
Bila belum berhasil juga, hubungi email pengelola di:
HRM-Club-owner@yahoogroups.com






0 comments:
Post a Comment